News

Perempuan Indonesia Jalan Mana Yang Kau Pilih?

Printed- Bisnis Indonesia, 21 April 2017

PEREMPUAN INDONESIA, JALAN MANA YANG KAU PILIH?

 

 

“Dia lahir dari rahim Bumi Pertiwi, dibesarkan oleh harmonisasi beragam norma budaya dan agama. Tak pernah lelah dalam menghadapi aral melintang, meski norma masyarakat terkadang mengekang.  Perempuan Indonesia berjuang memecahkan karang keraguan akan peran, dengan tetap menyumbang terang ‘tuk generasi mendatang” ---- Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group, Founder Angel Investment Network (ANGIN),  Founder Indonesia Business Coalition on Women Empowerment (IBCWE)

 

Bagi saya berbicara tentang perempuan Indonesia masa kini bukan lagi menyoal mengenai kekhususan- kekhususan yang harus diberikan sebagai seorang perempuan. Bukan lagi perkara fasilitas misalnya tempat parkir khusus perempuan atau kekhususan lainnya, melainkan bagaimana memaksimalkan potensi agar kaum perempuan bisa memperkuat pilihan masing- masing dengan dukungan berbagai pihak.

 

Berangkat dari potret Indonesia, negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan luas 1.905 juta km². Indonesia merupakan tempat tinggal bagi lebih dari 250 juta jiwa dengan beragam norma budaya dan agama yang mewarnai.  Tidak terhindarkan tatanan yang ada dalam masyarakat diwarnai  akulturasi norma- norma yang ada khususnya bagi kaum perempuan. Contoh konkretnya adalah apa yang dihadapi RA Kartini pada masanya. Tapi itu hampir seabad lalu, dimasa kini kesempatan untuk perempuan banyak terbuka lebar namun tak urung kesenjangan gender masih tetap ada. Warisan dari sistem patriarki masih mewarnai sistem dalam masyarakat, tidak dalam bentuk restriksi langsung sebagaimana masa Kartini dahulu namun dalam bentuk minimnya infrastruktur yang mendukung pilihan perempuan dalam bekerja.

 

Data Asian Development bank menyebutkan bahwa saat ini di Indonesia partisipasi tenaga kerja masih didominasi laki- laki dengan persentase 86% dan 52% pekerja perempuan. Dari nilai tersebut 28% perempuan usia kerja bekerja di sektor formal dengan 40% diantaranya bekerja di sektor pertanian dan 22% retail. Sekitar 2 juta perempuan tergantung pada pekerjaan berupah rendah industri padat karya. Penghasilan rata- rata kaum perempuan bahkan masih setengah dari jumlah penghasilan rata- rata kaum laki- laki. Belum lagi bicara jumlah tingkat pengangguran kaum perempuan yang 3% lebih tinggi dari pada laki- laki.

 

Dilihat dari pendidikan, perempuan sebenarnya mewakili 57% dari lulusan universitas di Indonesia. Sebanyak 47% diantaranya bekerja profesional di tingkat entry level. Namun kemudian persentasenya mengecil menjadi 20% saat mencapai manajemen tingkat menengah dan bahkan semakin mengecil di level CEO serta Dewan Komisaris, sebesar 5% saja.

 

Potensi yang sungguh disayangkan karena misalnya saja dari 57% kaum perempuan yang mewakili lulusan universitas di Indonesia mampu memaksimalkan potensinya, daya dorongnya untuk perekonomian akan luar biasa. Data Mckinsey menyebutkan bahwa kesetaraan gender diperkirakan mampu menambahkan 12 triliun dolar untuk pertumbuhan ekonomi global pada 2025 mendatang. Harga saham korporasi Eropa yang memiliki banyak perempuan dalam tim manajemen mereka naik 17% antara 2005 dan 2008 dan laba operasi rata-rata hampir dua kali lipat dari industri serupa. Itu baru bicara kaum perempuan yang berkarir di dunia professional. Belum lagi membahas potensi kaum perempuan yang berkontribusi pada sektor informal sebagai wiraswastawati.

 

Pada tahun 2011, Indonesia telah memiliki 33 juta perempuan pengusaha dan berdasarkan data Bank Dunia  sebanyak 44% dari usaha mikro dan UKM dimiliki kaum perempuan, persentase yang tidak jauh berbeda dengan level asia sebesar 45%. Kontribusi kaum perempuan kepada rumah tangga dalam hal ini mencapai angka signifikan sebesar 62%. Dalam Laporan Pembangunan Bank Dunia 2012,  Kesetaraan Gender didefinisikan sebagai smart economic karena dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan hasil pembangunan untuk generasi berikutnya, dan meningkatkan pembangunan keluarga.  Namun lagi- lagi kita bicara tentang kesenjangan gender yang membuat angka angka tersebut belum menggenapi keoptimalan.

 

Kesenjangan gender menjadi kontribusi signifikan terhadap fakta diatas dan saya menilai hal itu dipengaruhi dua faktor yakni internal dan eksternal. Faktor internal datang dari diri kaum perempuan sendiri, karena sebagai perempuan yang besar di kultur timur tanggung  jawab untuk mengurus keluarga lebih besar berada di pundak mereka. Sementara faktor eksternal lebih kepada insfrastruktur dalam sistem ekonomi  yang terkadang kontra produktif bagi kaum perempuan untuk mengembangkan karir/bisnisnya.

 

Misalnya saja seorang perempuan yang berkarir sebagai profesional seringkali menghadapi dilema saat dipromosikan ke jenjang lebih tinggi karena berarti tanggung jawab akan lebih besar, praktis menggerus waktu bersama keluarga. Atau justru tidak bisa mengembangkan karirnya karena kemungkinan maternity leave, membuat pemberi kerja hanya mempertahankan pekerja perempuan di level kontrak yang bisa digantikan dengan mudah. Akhirnya peluang yang tersedia lebih banyak diserap pekerja laki- laki. Kemudian masalah petani perempuan yang juga terkendala sistem dalam masyarakat. Pernikahan usia dini yang berdampak pada perceraian bisa mempengaruhi seorang petani perempuan dalam memperoleh hak kepemilikan lahan dari keluarganya, padahal 40 % dari tenaga kerja perempuan kita merupakan pekerja di sektor pertanian. Belum lagi menyoal kaum perempuan yang ingin berwirausaha namun terkendala dengan minimnya pendidikan, skill, serta networking yang tepat terutama akses terhadap market serta finansial.

 

Bagaimana kemudian celah  ini bisa dijembatani menginspirasi saya mendirikan Angel Investment Network (ANGIN) dan Indonesia Business Coalition on Women Empowerment (IBCWE). ANGIN adalah sebuah network untuk memfasilitasi para start up terkait Capacity Building, Mentoring, Networking dan permodalan untuk start up. Ini juga sebuah inkubator bisnis yang mengkhususkan diri membantu  bisnis mikro dan UKM kaum perempuan. Melalui ANGIN juga saya ingin  mendorong pertumbuhan sebanyak mungkin wirausahawati di Indonesia.

 

Sementara untuk perempuan yang bekerja sebagai profesional, saya mendorong kesetaraan gender melalui IBCWE. Melalui IBCWE yang merupakan koalisi bisnis, saya mengajak private sector berkomitmen pada kesetaraan gender. Misalnya perusahaan diminta untuk memberikan kesempatan setara dalam proses perekrutan dan promosi berupa kesempatan untuk kaum perempuan dalam mencapai posisi manajemen level menengah hingga puncak. Caranya bisa melalui fasilitas training yang menambah skil karyawan serta turunan kontribusi lainnya. Misalnya fasilitas tempat penitipan anak, ruangan menyusui, flexible working hour yang menitikberatkan pada tanggung jawab pekerjaannya, atau mungkin lebih jauh berupa paternity leave. Disini yang didorong adalah kenyamanan pekerja perempuan dalam menjalankan tugasnya.

 

Namun demikian bagi saya pilihan seorang perempuan untuk berkarir di dunia profesional, atau sebagai wiraswastawati yang berbisnis di rumah melalui online/offline shop,atau bahkan berperan sebagai ibu rumah tangga saja adalah pekerjaan yang sama penting, sama hebat dan sama berharganya.  Tidak ada yang berbeda karena tujuan akhirnya sama yakni keharmonisan keluarga.

 

Kedepannya saya ingin perempuan Indonesia tidak lagi meragu dalam menentukan peran. Berkarir secara formal, informal ataupun menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah keniscayaan tanpa beban. Diharapkan dari tangan- tangan perempuan yang mampu menyeimbangkan peran, lahir generasi- generasi yang lebih tangguh, terdidik dan mapan secara ekonomi tanpa mengabaikan norma- norma. Ini tentunya perlu dukungan dari berbagai pihak: pemerintah, private sector dan keluarga.  Suami menjadi faktor kunci yang mendukung peran perempuan dalam ekonomi dapat harmonis dengan perannya sebagai ibu rumah tangga.  Saya apresiasi bahwa kini sudah ada gerakan- gerakan global terkait persepsi baru yang diadopsi kaum laki- laki. Di Indonesia ada gerakan laki-laki baru yang mengusung kesetaraan gender dan anti kekerasan terhadap perempuan, tidak terkecuali dalam tataran global seperti yang diusung PBB “He for She”, “White Ribbon”, “Men Engage Alliance” dll. Perempuan Indonesia jalan mana yang kau pilih?****